“ARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGHHHHHHHHHH…”
“HUAAAAAAAAAAAAAA….!!!”

Roller Coaster-

Pernah naik?
Saya termasuk perempuan yang menganggap kalau pergi ke suatu wahana bermain tapi tidak duduk dan menggoncangkan badan di alat itu, namanya tidak afdol bermainnya. Ya. Bermain pun ada afdol-afdolannya.
Saya suka datang ke tempat itu sebelum loket dibuka sampai akhirnya gerbang ditutup.

Heh!!! Bukaaan!!!

Saya bukan satpam atau penjaga loket di situ.

Saya hanya pemain yang suka mempermainkan mainan bukan yang lain.
Mainan itu tidak sama dengan kehidupan, menurut saya. Tapi, sama dengan salah satu permainan. Roller Coaster, namanya. Kita sebut dia sebagai “RC” saja ya. Bukan agar terkesan misterius, tetapi hanya untuk menyingkat pengetikkan saja. Jajaja.

Kenapa saya sebut demikian?
Kalian tahu kan RC itu kadang di bawah kadang di atas. Kita tinggal duduk. Baca doa mungkin. Siap atau tidak siap harus siap memulai guncangan dan putaran. Di bawah tekanan. Di atas pun juga. Ada pula pengaruh gravitasi yang semua kembali ke bawah. Bawah. Ya. Bawah. Coba lihat di bawah kalian ada apa?

Yee, jangan dilihat benaran, saya hanya iseng. Hehe.

Ok. Semua kembali ke bawah. Kembali ke asal.

Melunjak dari bawah ke atas dan terkadang atau bahkan orang-orang yang menaikinya MUNTAH.
Terkadang saya juga MUAK tapi tidak sampai dan harus MUNTAH dengan adanya masalah-masalah dalam kehidupan ini. Ke atas tapi tidak lupa saat di bawah. Dan jangan berputus asa saat di bawah, karena kita akan ke atas. Tapi juga jangan terlalu bahagia dan bangga dengan posisi di atas, karena siapa tahu atau pasti kita akan ke bawah. Berputar. Selayaknya roda. Roda kehidupan. Lebih dari roda sepeda. Berart rodanya lebih dari 2 dan 3 ya? Banyak putarannya. Walau saya belum lulus dalam bersepeda, setidaknya saya tidak setakut untuk tidak lulus dari RODA KEHIDUPAN. Kehidupan yang bagi saya permainan. Tapi, juga GAWAT kalau kehidupan itu dibuat MAIN-MAIN.

Bedanya dengan kehidupan asli kita ya mungkin kita tidak harus membeli karcis untuk bisa memainkan si kehidupan ini. Karena semua sudah diatur oleh Tuhan. Bukan penjaga tiket / karcis.

“Tuhan, aku mau main permainan kehidupan ini, boleh minta karcisnya satu? Untuk berapa jam ya, Tuhan? Oh, berapa hari ya? Berapa minggu mungkin? Oh, bulan? Atau tahun bahkan?”
Ya Tuhan main rahasia-rahasiaan sama saya dan kita semua soal WAKTU.

“Pak, saya mau mutar-mutar di Roller Coaster-nya dong. Minta satu ya…”
Langsung dibalas, “Ya HARGA-nya… sekian. 45 menit ya, Dik…”
Ok. Harga sekian untuk waktu 45 menit. Mau nambah (waktunya bukan uangnya)? Ya nambah uangnya lagi ya.
Bagaimana dengan kehidupan yang diberikan Tuhan? Tidak seperti itu.

Tidak harus beli tiket,
Tidak harus mengantri,
Tidak harus mengoceh karena lama menunggu,
Tidak perlu resah / khawatir akan kualitas alat permainannya,
Tidak perlu berkomatkamit membaca doa dengan gelisah ketika penjaga tiketnya berkata, “Ya. SIAP YA SEMUA?! 3.. 2.. 1..”

untuk memulai permainan / kehidupan…

KALIAN SIAP???!!!
Ok. Saya duduk paling depan ya

…..

Eh, ada yang mau bayarin tiket saya? 😀

Life is like a rollercoaster – all you have to do is sit down, shut up, and enjoy the ride.

Jakarta, 17 Juni 2010

– Anggita Aninditya –
(yang mau muntah dengan putaran-Nya)

Advertisements