AAPP dan hal-hal bodoh lainnya…

(Anda merasa pernah melakukan Kebodohan? Bandingkan dgn kebodohan saya. Siapa Pemenangnya?)

(>._.)ø Karya Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum ø(._.<)

AAPP dan hal-hal bodoh lainnya…Saya adalah seorang gadis remaja yang menyenangi hal-hal yang menyenangkan (terutama di bidang seni dan budaya, menulis blog {karena apa yang kita bagi dalam menulis, kita ttidak dapat menyangka sebelumnya jika dampaknya positif utk siapapun yang membacanya}, menyanyi {Jangan samakan saya dengan Giant}, bermain musik, membaca setumpukan buku-buku yang berilmu {komik juga, terutama CONAN}, berpetualang ke dunia antah-berantah tidak jarang ke Pulau Kapuk, berusaha membuat Robot Doraemon syalala~ dengan mengumpulkan boneka atau pernak-pernik Doraemon terlebih dahulu untuk menjadi kesatuan Doraemon yang akan membentuk Doraemon Super Duper Dahsyat Bombastis Fantastis karena dari asal kembali menjadi asal, asal oleh saya bisa jadi asal-asalan, menghabiskan stockCoffe Latte + Cappucino, menyoret-nyoret kertas polos menjadi penuh warna Blue & Brown (BB) dengan gambar Pelangi dan Kupu-kupu biasanya saya melukis itu semua dalam jumlah “17” sesuai tanggal lahir saya, tanggal kemerdekaan Indonesia Tercinta pula, alamat link ini, “1+7=8” angka yang saya suka juga karena angka yang penulisannya indah bagi saya dan tdk putus, terdiri dari angka “1” yang saya suka karena menunjukkan ketunggalan-setia-only one, umur 17 adalah umur peralihan ke masa remaja, memimpikan naik kuda putih (karena saya shio Kuda juga)bersama sang pangeran~ so sweet~ ;;) ) dan mencoba pula membuat hal-hal yang kurang menyenangkan apapun itu menjadi menyenangkan dengan cara saya sendiri. Sehingga apa yang saya lakukan dapat berguna untuk orang lain, menghibur orang lain, dan paling tidak sudah membuat orang lain tersebut bahagia 🙂

Tanggal:

Sekarang… 2009 (Rp. 2000,oo + Rp 2,oo) +_+

(setelah 18 tahun sebelumnya, aku resmi terlahir menjadi anak manusia (bukan anak Kece Bong {KCB} ) dan mereka tersenyum bahagia atas kehadiranku di dunia)

Uhhuy…` Uyeeee… yeiiiyeee iyeeeyeyeee (audible pada YM)

Waktu:
Di kala Jakarta (ibukota yang lebih kejam daripada ibu tiri) diselimuti awan mendung dan matahari tertutup malu (ternyata punya malu)… yang akan tenggelam (bukan karena tak bisa berenang)

Tempat:
Di kamarku istanaku biduanku berhadapan depan daripada monitor yang sudah sembuh daripada beberapa virus yang pernah sempat membekukan beberapa daripada file2 desain dan hasil huntingku.
Namun, kini daripada pengguna yang menularkan daripada virus daripada lemot tingkat tinggi terhadap daripada laptopnya sendiri.
Download dengan penuh kesabaran
Mengucap, “Kosong adalah Isi…Isi adalah Kosong…”
*Sebenarnya TAHU Kosong itu ada isinya, TAHU Isi itu kopong* —> Makanya kalau ke Abang Gorengan, pesan tahu kosong saja

-Mata terpejam mengelus dada (sebenarnya ingin mengelus moncong kuda) mengeluarkan bunyi ‘ckckck’ dari hidung (sampingnya mulut tentunya)
(Teringat pada ucapan seorang biksu suci yang menjadi guru ‘Titpatkai’)
~ Mohon maaf apabila ada yang tersinggung ~

eeng..ng.. yg di depan ini, mohon mukanya jangan merah-merah malu begitu :p
[Salto Para-Para lebih disarankan]

3, 2, 1,… (Jangan lanjutkan dengan 0, -1, -2, -3)

~ Dhuuuuaarrr… Dor… Dor… Dor… ~ —> Suara tembakan,  sales mengetuk pintu Toilet juga bisa.

MULAI !!! (Jangan lari, tapi bacalah!)

Tuing… Tuing… (Suara Beruang melompat, karena beruang lbh bs melompat drpd berlari)

1. Sore itu aku ke kampus tercinta. Berpelukan dengan beberapa teman sepermainan (Po, Lala, Tinkywinky, Dipsi~ Berpelukaaaan…) yang tentunya masih dalam tahap terapi.

Diantaranya adalah Syamsiah (wanita, bukan pria. Coba Cek Syam…).
Yang biasa kupanggil Sam (tolong dengan sangat jangan ditambah dgn 3 huruf ‘PAH’.
Jgn tertawa Sam. Bergulinglah di rumput.

Cumiku

****

******

********

Matahari mulai tenggelam (bukan karena tak bisa berenang, tapi memang nasib yang membuat pelampung bebek2n tdk dijual di Matahari, mungkin ada di Robinson, Ramayana, dan sekitarnya)
*** Sekali lagi diingatkan. Diingatkan. Untuk yang membawa anak, harap menggandeng anaknya masing-masing, jgn sampai tertukar dengan anak orang lain atau malah dengan anak Kodok ***

Terdengar teriakan cempreng (Maaf, Sam. Ini jujur)

Gitaa Oneeeng, nginap aja di rumah gw yaaa… Ud Sore juga kan..,” tawar Sam padaku (dan entah mengapa aku menengok saja dipanggil seperti itu) tak luput dengan tampang melasnya.
Yang sampai saat ini aku tak tahu itu asli atau dpt dibuka topengnya. “Buka Dulu Topengmu” [PETERPAN]
Pembaca ada yang suka lagunya?

OK. Kembali.

Ya. Rumahku jauh. Bahkan pangeran berkuda putih pun dpt berubah mnjdi pangeran brkuda hitam bila mengantarkanku pulang pergi.
(Kuda tdk mnggunakan PONDS sbagai pemutih kulitnya)

“Hmmm… ya udah Sam. Boleh,” jawabku dengan sedikit rasa H2C (Harap-Harap Cemas) takut jika keesokan harinya dpt muncul berita di koran atau TV yang memberitakan
bahwa telah terjadi penganiayaan seorang majikan terhadap pembantunya.

Sampai di Villa Regency Blok C. —> Lokasi Penculikan-ku.

Kami mengobrol, curhat, makan, bermain dgn adik2nya (Bersyukur adik2nya dberi ketabahan menghadapi kelakuan Syam yang.. yang.. yang digoyang goyang yang~), dan seperti biasa sebelumnya aku juga sudah sering menginap di rumahnya [Oh, bukan. Bukan jd Satpam]
Kami pindah ke teras.
Ada nyamuk. Ah, bukan. Lbih tepatnya, banyak nyamuk.
“… Banyak Nyamuk di rumahkuu uu uuu… gara-gara kamuu uu malas bersiiih-bersiih…” —> By: Enno Lerian.
(Jd ingat masa kecil kalau ingat lagu2 ini. Bernostalgila. Ternyata pernah kecil juga, euy)
Terlihat Sam bergegas masuk ke dalam rumah sambil berkata, “Sebentar ya…”

Beberapa detik kemudian,

Eng..ing..eng…

AKHIRNYA DATANG JUGA!!!

Sam muncul dengan mmbawa senjata pembasmi kejahatan dgn kekuatan bulan akan mghukummu. Aduh, maaf. Maksudku pembasmi nyamuk.
Spontan aku langsung bertanya,“Sam, kok bawa raket. Mana ‘Kok’ nya? Mau main basket dmn???”

Ya! Permainan baru! Bermain basket dengan Raket! Good idea! Oh, NO! Stupid idea!

Gambaran Main PingPong : (>’.’)>=O____l_*__O=<(’.'<)

-Tak usah heran, memang kami sudah terbiasa dgn perkataan bodoh-

“Bukan oneng, ini utk nepokin nyamuk,”jawabnya sambil memperagakan bgmn cara mnggunakannya.

Model by: Sam.

Jarum jam bergerak (Tik… Tik… Tik… : Suara orang memanggil “Tika”, suara hujan, suara sedang mengetik, suara tidurnya Giri)
Beberapa menit terlewati.
2 anak manusia terlarut dlm “KOMPETISI PENEPOKAN NYAMUK” dengan hadiah jutaan Jasad Nyamuk (Jutaan rupiah mnjadi tak ternilai lagi dibanding dgn ini).

Wow. Aku menang. Aku memenangkan kompetisi ini. Sulit dipercaya.
~ [Sebenarnya tak patut utk dibanggakan] ~

. . . Q(^.^Q)

Score:

  • Gita: 17 nyamuk
  • Sam: 7 nyamuk

[Saya memenangkan nyamuk sebanyak angka yang saya suka, memang sengaja basmi sampai angka segitu]

“Gue ngalah utk bocah tau, haha…,” jawab Sam.
“Makasiii yaa Saam *tiringtingting* (sambil mata ketapketip ;;) ), kuhargai cita muliamu mngalah demiku. Halah..,” jawabku dgn tatapan sinis penuh kemenangan —> (¬.¬)

2. Masih di lokasi yang sama. Aku melamun menatap ke depan (kebiasaan yg sulit kuhilangkn. Sulit utkku melamun mendongak ke atas. Takut pegalinu. Otot cekot-cekot. zzz) `(•.°)~

Di depanku ada pohon rambutan. Rambutnya siapa aku kurang tahu.
“Sam, mkn rambutan yuk!” ajakku sambil menarik tangannya, juga kakinya kalau dibolehkan oleh Bapaknya.
“Ayuuuk.ayuuk.ayuuk…” jawabnya sambil melompat-lompat (Sebuah obsesi utk tumbuh lbh tinggi. Jgn lompat2, Sam. Mnum Scotemulsion yaa..)
Kami memakan rambutan dan…
Ternyata kalau soal makanan,

(¬_¬)/¯ ” Sam lah pemenangnya!!! “

Aku dikalahkan dengan score…
……………….
…………….
………….
……….
…….
….
..
.
Aku lupa (-_-¤)

Dan perlu diingat neneknya & pembantunya pun ikut memakan rambutan hasil petikan kami.
Kami memetik.
Mereka yg memakan.

” Sangat menghargai perjuangan kami utk dpt mngambil rambutan2 dr ketinggian yg tinggi “
Terima kasih. . .

Plokplok (efek dari tepuk tangan, kaki juga boleh, bukan efek bunyi dari jalannya siput)

Tepuk pramukaaaa…

Plokpok pok plok pok pok plok popok mpok.

Git… Anggit… Anggit-Anggit semuut siapa takut naik ke atas~ (suara dari alam bawah sadar)
*) Itu lagu dari “Injit-Injit Semut”

Huah, baiklah. Acara akan dilanjutkan setelah pariwisata berikut ini (baca:pariwara)

-Mengoceh dgn mata terpejam-

3. Keesokan paginya (Walaupun jam mnjukkan pukul 11 siang. Agar tak malu. Kita sebut saja dgn “Pagi”)

eeeeaaaah… ela..e..e..e.. Kaki Sam menimpa badanku. Badanku menimpa kakinya. Lhoo…
Gubrak..gedebruk..auw

“Tambahkan kecap dan jeruk nipis lagi Sam keboncengnya agar sedikit pahit,” gumamku sambil garuk-garuk menunjukkan tdk heran mereka menyebutku “ONENG”

Lobster panggang darimana ini?
– Cocok untuk dijadikan judul dalam sebuah blog untuk orang diet dengan menggunakan diet golongan darah-

“Saaam… Gitaaa..Yuhuuuu”~

Terdengar suara seseorang yg sepertinya mnyuruh kami utk sarapan.
Tapi, ternyata bukan utk sarapan. UNTUK BANGUN!!! Well… -.-

“Ayooo, Banguuun, banguun, ayoo majuuuu, MAJUUUUUUUUU… Ayooo MAJUUU MUNDUUUR”
(nyanyikan dgn nada lagu Taman Kanak-Kanak “AKU SEORANG KAPITEN, BUKAN SEEKOR KEPITING” )

Kami sadar. Kami tak akan berjumpa dgn ‘someone special‘ kami saat itu.
Jadi, Mandi Pagi tdk termasuk kewajiban dlm benak kami.
Ya. Anak muda.
Yang Tua pun begitu.
*Pletak* (bunyi jitakan dari seseorang yg tua di sebelahku yang merasa golongan tua dipertuakan di sini)

Seperti konflik gol Tua dan gol Muda yang dapat menimbulkan konflik Rengasdengklok
-Flashback-

Kami sarapan dan…

Ke luar halaman…

baiklah, buka halaman berikutnya anak-anak…

OH! TIDAK! ADA SEPEDA RODA 2 KECIL! 😮
(Teriakku dalam hati, dalam hati kita juga bisa teriak. Tidak hanya mengobrol dgn beberapa kodok)

Firasatku buruk.

Sam mulai memamerkan kehandalannya menggenjot sepeda yang berwujud roda dua. (._.)

Huh, Aku tak tertarik, Sam.
Siiiinggg… Suiing… (Ya. Berikan 2 suiing bawang putih ke dalam kopi Anda)
Bukan “suing” itu yg kumaksud di sini. 😀

“Oneng, sini belajar naik sepeda! Adik gw yang masih SD aja bs naik sepeda!” mengajakku dengan penuh senyuman dan tatapan yang menghanyutkan jiwaku… Ochouch~

#.Serasa Bunga Seroja bertebaran, bukan Serasa Nuansa Bening. #

Padahal, di halaman Sam hanya ada Tanaman KasKus si Kaktus, bukan Bunga Sakurata.

Ouhhh, sebenarnya daritadi aku berharap ucapan itu tak keluar dari mulut Sam.
Tapi, apa boleh buat.
Aku berusaha mencoba. Aku sudah pakai Clear Shampo.

Jadi, SIAPA TAKUT??? :p

Aku menaiki sepeda!!! *^o^*

HOREEE!!!

Aku bisa naik sepeda! Ingat!

HANYA NAIK! Bukan, mengendarai sepeda! -.-a

Aku naik, tetapi belum dapat mengendarainya. Sam mendorong sepeda dibelakangku.
“Lo genjot, Git…” suruhnya.
“He’eh.. He’eh…” jawabku singkat masa bodoh.
Karena aku takut jatuh, stangku kupegang erat2.
Di waktu yang sama Sam mendorong sambil mengeluh.
“Kok jadi tambah berat sih, Neng?”
“Hahh? Apa? Kenapa?” jawabku polos.

Sam langsung melihatku.

“ONEEEEEEEEEENG!!! EMANG BENER YA, GA PERCUMA ANAK-ANAK MANGGIL LO “ONENG”, YANG LO LAKUIN ITU, NGE-REM-! BUKAN NGE-GENJOT-! PERCUMA LO GENJOT, TAPI, TANGAN LO NGE-REM-! SEPEDANYA GA BAKALAN JALAN!”

~ Tidak sampai hitungan menit, ia-pun tertawa gegulingan ~

– Dengan tampang melas seperti mndapat tekanan bathin yang tak kuasa bersabar utk mengajari seorang gadis yang oneng yang sampai saat ini mempunyai cita

“Aku Ingin Bisa Naik Sepeda”

Tak tega membayangkan.

Sejak saat itu sudah dapat membedakan arti dari “REM” dan “GENJOT”

Terima kasih, Sam. Guru besarku. Walaupun badannya tak sebesar Giant.

Muridmu,

-AAPP-

Advertisements