Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


” KOTA-ku, KOTASENI… ” –AAPP

Tahun 2009

Berawal dari mengunjungi pameran lukisan tunggal pada 17 Mei 2009 di Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya bertemu pelukis yang bernama  Pak Qbro.  Kami bercakap-cakap cukup lama. Oleh beliau saya pun diberitahu bahwa ada komunitas seni di dekat kediaman saya. Komunitas seni yang bergelut dengan anak-anak jalanan, yaitu KOMUNITAS TAMAN SENI INDONESIA (KOTASENI).  Mendengar adanya komunitas seni yang berjiwa sosial tersebut,  malam itu juga saya langsung menuju lokasi berkumpulnya para anggota KOTASENI di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat.

Dalam perjalanan dari TIM menuju Taman Suropati, saya masih belum mendapat gambaran seperti apakah KOTASENI? Bagaimana kegiatannya? Dan lain sebagainya.

Akhirnya saya sampai di Taman Suropati. Di taman ini terlihat banyak orang. Ada yang bersenda gurau, berfoto ria, sekadar melamun, menikmati udara taman, dan yang menarik lagi ada sekelompok orang yang membuat sketsa, belajar fotografi, dan bermain musik.  Langsung saja saya menghampiri salah seorang yang sedang berkumpul di sana dan menanyakan keberadaan Komunitas Taman Seni Indonesia (KOTASENI). Orang tersebut langsung menunjuk ke arah seseorang yang sedang bermain cello“Beliau ketua-nya, Mbak… Mungkin lebih enak bertanya kepada beliau” kata orang tersebut. Kemudian, saya melangkahkan kaki menuju bangku taman tempat sang ketua. Saya mengenalkan diri kepada beliau. Saat itu saya tidak hanya berkenalan dengan sang Ketua, melainkan juga dengan para anggota Divisi Seni Rupa. Dari divisi ini saya berkenalan dengan Mbak Bukhi Prima Putri, Mbak Sari Atika, dan Mbak Rovie. Mereka sedang asyik menyeleksi karya-karya. Lalu, dari Divisi Fotografi saya berkenalan dengan Mas Ondel yang saat itu sedang memainkan handycam. Saya juga berkenalan dengan Mas Samuel. Ternyata lelaki bergimbal panjang ini dan teman-teman sedang menggarap Pagelaran Seni “Wayang Beber“. Wayang yang sudah hampir punah. Cara mempertunjukkan Wayang Beber-nya pun dengan cara dibeberkan, menggunakan arsir benang, dan diiringi orkestra. Wow, sungguh cara menyatukan budaya barat dan budaya timur yang sangat menarik. Tentunya dengan visi misi melestarikan budaya bangsa.  Saya salut dengan mereka. Penampilan yang mungkin diremehkan oleh sebagian orang besar di luaran sana, namun jiwa nasionalisme mereka patut diacungkan 4 jempol (gajah) bahkan lebih.

* Pelajaran yang dapat saya ambil adalah untuk tidak lantas menilai seseorang berdasarkan penampilan luar, bahkan dari status sosialnya. Karena bisa jadi mereka “lebih” dari kita.

Keesokan harinya saya resmi menjadi anggota KOMUNITAS TAMAN SENI INDONESIA.

Berikut penjelasan saya mengenai KOMUNITAS TAMAN SENI INDONESIA (KOTASENI):

KOTASENI (Komunitas Taman Seni Indonesia) yang terletak di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat merupakan sebuah wadah  para pecinta seni untuk berkumpul. Tidak hanya sekadar berkumpul, para pecinta  seni juga dapat belajar serta menyalurkan kreativitasnya pada bidang seni budaya dan sosial. Pada mulanya KOTASENI dimulai dari sekumpulan anak-anak muda dan seniman jalanan yang sering berkumpul dan mengekspresikan minat dan bakat mereka di dunia seni. Seiring berjalannya waktu semakin banyak yang bergabung dari berbagai kalangan. Ada seniman dan musisi jalanan, pedagang, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga,  pegawai kantoran, dan bahkan yang bekerja di pemerintahan.  Semua berkumpul menjadi satu tanpa kesenjangan apapun. Akhirnya, pada 27 Febuari 2009 komunitas ini resmi berbadan hukum menjadi yayasan non profit.

Di dalam KOTASENI adabeberapa DIVISI, yaitu:

I. Divisi Musik (Orkestra dan Band):

  • Gesek: Biola, Cello, Viola, dan Contrabass.
  • Tiup: Flute, Saxophone Alto, Tenor, Terompet, Karinding, dan Suling Sunda.
  • Petik: Gitar
  • Pukul: Drum dan Perkusi

II. Divisi Seni Rupa:

  • Sketsa
  • Lukis
  • Lukis Kaca
  • Batik
  • Patung
  • Kriya
  • Pahat

III. Divisi Teater

IV. Divisi Lensa:

  • Fotografi
  • Film

V. Divisi Sastra

VI. Divisi Vokal

VIII. Divisi Tari

Walau berbeda-beda latar belakang, para anggota memiliki satu visi misi:

1. Melestarikan seni dan kebudayaan Indonesia

2. Meningkatkan rasa cinta tanah air terhadap generasi penerus bangsa.

3. Meningkatkan kualitas dan pendidikan anak bangsa, terutama anak-anak jalanan.

4. Menyalurkan minat dan bakat anak-anak bangsa dalam berbagai bidang seni.

5. Memupuk rasa solidaritas, jiwa kepemimpinan, dan usaha untuk hidup mandiri.
KEGIATAN:

Kumpul keluarga besar KOTASENI dan latihan seluruh divisi:

hari: Minggu

waktu: Pukul 14.00 WIB s/d selesai

tempat: Taman Suropati

ACARA-ACARA yang telah dilaksanakan:

  • Musical Drama -JOY TO THE WORLD- SAS & SYMPHONY KOTASENI
            In Jan 2011
  • Perfomance “Hansel and Gretel”
    In Oct 2010

    The story follows a young brother and sister who discover a house of candy and cake in the forest and a cannibalistic witch. “Once upon a time a very poor woodcutter lived in a tiny cottage in the forest with his two children, Hansel and Gretel. His second wife often ill-treated the children and was forever nagging the woodcutter…”

  • “Visit Bangka Belitung Archipelago 2010” -KOTASENI-
    Jun 2010 to Jul 2010

    Visit one of the most beautiful archipelagos in the world. Twelve bridges and eight cable ferries take you through unique archipelago nature from island to island.

  • “Pagelaran Seni Wayang Beber” -KOTASENI- @ Taman Suropati
    In Dec 2009

    The wayang beber has strong similarities to narratives in the form of illustrated ballads that were common at annual fairs in medieval and early modern Europe. …They have also been subject to the same fate—they have nearly vanished. Chinese visitors to Java during the 15th century described a storyteller or unrolled scrolls and told stories that made the audience laugh or cry. A few scrolls of images remain from those times, found today in museums. There are two sets, hand-painted on hand-made bark cloth, that are still owned by families who have inherited them from many generations ago, in Pacitan and Wonogiri, both villages in Central Java

  • “Pagelaran Seni Wayang Beber” -KOTASENI- @ Goethe Haus
    In Dec 2009

    The wayang beber has strong similarities to narratives in the form of illustrated ballads that were common at annual fairs in medieval and early modern Europe. …They have also been subject to the same fate—they have nearly vanished. Chinese visitors to Java during the 15th century described a storyteller or unrolled scrolls and told stories that made the audience laugh or cry. A few scrolls of images remain from those times, found today in museums. There are two sets, hand-painted on hand-made bark cloth, that are still owned by families who have inherited them from many generations ago, in Pacitan and Wonogiri, both villages in Central Java.

  • “Pagelaran Seni Wayang Beber” -KOTASENI- @ Ancol Art Festival
    In Aug 2009

    The wayang beber has strong similarities to narratives in the form of illustrated ballads that were common at annual fairs in medieval and early modern Europe.They have also been subject to the same fate—they have nearly vanished. Chinese visitors to Java during the 15th century described a storyteller or unrolled scrolls and told stories that made the audience laugh or cry. A few scrolls of images remain from those times, found today in museums. There are two sets, hand-painted on hand-made bark cloth, that are still owned by families who have inherited them from many generations ago, in Pacitan and Wonogiri, both villages in Central Java.

  • “Ancol Art Festival” -KOTASENI-
    Jul 2009 to Aug 2009

    An arts festival is a festival that focuses on the visual arts in all its forms, but which may also focus on or include other arts. Arts festivals in the vis…ual arts are exhibitions and are not to be confused with the commercial “art fair”. Artists participate in the most important of such festival exhibitions by invitation, and these exhibitions are organised by internationally recognized curators chosen by a committee of peers.


(bersambung…)

Jakarta, 5 Juli 2011

Pukul 18.10 WIB

 

 

Oleh: Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum (AAPP)

Humas Komunitas Taman Seni Indonesia (KOTASENI)

Fakultas Ilmu Komunikasi

Desain Komunikasi Visual

Advertisements