• Saya menyukai angka 17. Angka 17 merupakan tanggal kelahiran saya. 17 Oktober. Setiap tanggal 17 Agustus pun dirayakan sebagai kemerdekaan atau ‘ulang tahun’nya Indonesia. Nomor telepon saya pun harus yang mengandung unsure angka ini. Kalau tidak, terpaksa saya tidak menggunakan telepon. Angka 17 terdiri dari ‘1’ dan ‘7’ yang merupakan bilangan yang abadi dan tak kan pernah bisa dibagi dengan angka lain. Saya hanya memiliki 1 Tuhan. Dan ibu saya, seseorang yang melahirkan saya ke dunia, ialah anak ketujuh. Angka 1 dan 7 jika dijumlahkan akan menjadi 8. 8 merupakan angka yang tak pernah putus. Dan semoga 17 merupakan angka yang tak pernah putus dari keberuntungan serta rahmat Tuhan. Semoga kelak saya pun menikah pada tanggal 17. Tentunya tidak dengan 17 pria.

• Saya menyukai warna lembut. Cokelat susu, cokelat emas, dan semua turunan dari cream dan cokelat. Terkesan meneduhkan dan elegant. Warna pastel juga seringkali membuat saya gemas. Apalagi makan pastel isi daging dan kentang.

• Berbadan gemuk, berkantong, dan selalu kalah jika bermain suit jepang. Doraemon. Sewaktu kecil dulu saya selalu menantikan film Doraemon di TV. Setiap hari Minggu sebelum bermain dan membantu ibu saya membereskan rumah, saya selalu duduk manis menunggu penampakan Doraemon di TV. Bagi saya, Doraemon adalah sosok yang lucu, penyabar, dan dapat menolong semua orang tanpa pamrih. Seringkali teman-teman saya menghadiahkan saya boneka atau apapun yang berkaitan dengan Doraemon. Sayangnya, Doraemon hanya melirik kucing tetangga.

• Siapa yang tidak suka melihat bayi yang lucu dan menggemaskan? Kepala saya selalu otomatis menengok lama ketika ada bayi atau anak kecil yang lucu melintas di sekitar. Entah dari cara mereka tertawa, bertanya, atau bahkan ketika mereka diam sekalipun dan dapat membuat orang dewasa tertawa. Lucu sekali rasanya melihat proses mereka yang baru lahir dan beranjak dengan pertanyaan-pertanyaan, “Apa itu Dunia?”

• Saya suka embun. Apalagi embun di atas daun. Suasana di waktu matahari muncul.

• Saya lebih menyukai pemandangan alam daripada pemandangan metropolitan. Walaupun sebagai seorang pecinta seni dan desain tentunya saya memang harus menggali setiap sisi keindahan dari segala sesuatu. Bukan karena gedung-gedung megah di penjuru dunia itu tidak bagus, hanya saja mereka tak seabadi lukisan Tuhan.

• Saya suka pelangi. Berwarna-warni. Dan pelangi pun berhasil menipu saya bahwa ia memiliki emas di ujungnya. Ternyata, tanpa ujung. Tanpa ada yang dapat meraihnya. Saya bahagia sekali ketika dapat melihat pelangi pertama kali di Belitung. Waktu itu saya dan komunitas saya berkesempatan untuk mengisi acara Visit Bangka Belitung Archipelago 2010. Untuk pertama kalinya juga saya melihat pelangi bertingkat dan bintang jatuh. Sebelumnya saya piker isu mengenai bintang jatuh adalah bualan belaka, ternyata di Belitung saya dapat melihat fenomena alam tersebut. Karya Tuhan yang akan selalu abadi keindahannya. Seperti pelangi, yang takkan indah jika hanya satu warna. Seperti manusia yang tak kan lengkap tanpa ciptaan Tuhan lainnya. Tanpa hujan, pelangi pun tak kan muncul. Tanpa ujian, keindahan itu tak kan bermakna.

• Keinginan terbang selayaknya kupu-kupu. Kupu-kupu memiliki metamorfosa yang sempurna. Ia tak akan langsung menjadi kupu-kupu yang indah. Ia harus melalui tahap dimana ia tidak disukai oleh manusia terlebih dahulu. Ia harus menjadi ulat yang memakan dedaunan. Memakan bagian tubuh tanaman. Ia harus menjadi sebuah yang menjijikkan. Ulat yang dihindari oleh kebanyakan manusia. Kemudian, ia diberikan kesempatan untuk berkontemplasi. Mengurungkan dirinya dalam kematian semu. Untuk terlahir kembali. Sebagai kupu-kupu yang indah.

`

Advertisements