Aku pernah merasa bahwa kehidupan akan terasa lebih tenang dan damai saat engkau tahu persis kapan akan pulang kepada pemilik sejatimu. Saat kau menjalani proses sampai tiba waktumu. Terasa begitu dekat. Saat kau benar-benar merindukan pemilikmu. Bukan karena mempersiapkan untuk masuk ke tampat yang disebut Surga dan menghindari lawannya. Tapi, saat engkau ingin sekali menaruh kepalamu pada pangkuanNya. Dan berbisik, “Aku siap..” Saat waktu berputar dengan cepatnya, tanpa bisa kau memaksa mundur jarumnya, bahkan untuk menghentikan detakannya sepersekian detik. Saat itu pula kau tahu harapan dan apa yang hendak kau gapai ribuan jarak langkah, ribuan waktu, ribuan alasan, kini tengah terbang berangan-angan. Terbang terbawa angin yang bebas tak terikat. Ternyata semua bukanlah jaminan engkau mendapat kebahagiaan. Bahkan seseorang pun dapat terhempas keluar dari kotak kenyamanan, bahkan kotak kebahagiaan itu sendiri. Bahagia itu saat engkau tahu tak ada alasan untuk tidak bahagia. Saat engkau terlahir di dunia ini, ternyata dari situlah engkau ditakdirkan untuk bahagia. Bukan untuk dicari. Ia tercipta sendiri.

Seolah tak penting lagi berjumpa dengan mereka untuk memasang kebahagiaan. Memberi kebahagian itu relative. Cukup dalam ruang engkau mencari letih. Cukup berlari menuju rumpun yang lapang. Cukup memandang lukisan di langit. Cukup bersandar pada semesta. Cukup mengadu pada Dia yang tak perlu engkau lihat untuk merasakanNya. Cukup sekian kisahmu, sampai engkau tertidur dengan pulasnya. Dan terbangun dalam dunia yang berbeda. Dunia yang jauh (mungkin) lebih indah dari yang pernah engkau bayangkan di dunia fana itu. Saat aku menulis ini pun aku tidak benar-benar dimampukan untuk membayangkan dimensi yang berbeda. Dimensi yang tak bisa kau paksakan untuk dipercepat atau diulur. Kau hanya pada porosmu.

Saat itu mungkin kau menyesal, mengapa begitu mudah tergiur dan mendambakan sesuatu yang terbilang ‘istimewa’. Menyesal atas apa yang pernah ditakutkan akan kekosongan. Tidak ada yang benar-benar kosong ternyata. Kosong bisa jadi terisi oleh kehampaan. Hampa yang bukan berarti tidak ada sesuatu untuk mengisi dan diisi.

Saat itu juga mungkin kau bertanya-tanya mengapa Dia mencelupkanmu pada dunia yang ternyata hanya sebulatan, dan kau tak pernah tahu apa yang terjadi di luar bulatan itu? Apa untuk mengetes? Sesuatu yang mereka berlomba-lomba bersaing untuk meraihnya. Sesuatu yang membuat manusia berambisi untuk merebutnya atau bahkan membinasakannya. Hingga, ada cara tak damai demi meraih kedamaian (yang sekali lagi, fana). Padahal kau tahu, itu tak kan lama. Itu tak kan abadi. Walau semua akan menuju keabadian. Tanpa sama mempersiapkan keabadian seperti apa. Saat engkau berada dalam keabadian, apa semua akan menjenuhkan? Apa semua yang ada dalam keabadian, itu yang kau harapkan? Apa keabadiaan itu sendiri bisa menjawab semua permintaanmu? Walau tak semua permintaan, berujung pada membaikkan.

– AAPP –

Advertisements