Saat ini, yang kutahu ada satu jiwa yang menghilang. Entah yang mana lagi dari pelosok lain. Menghilang dari kefanaan. Dan mungkin kembali pada sang pemilik jiwa seutuhnya. Aku menjadi lemah setiap kali mengetahui sebuah roh berpisah pada raganya. Mungkin dalam setiap jengkal langkahku, terdapat jejak-jejak yang menghilang oleh waktu. Tapi terekam oleh sebuah kisah. 

Malam di kompleks tempat tinggalku, bendera kuning tergantung di tepi jalan. Tertiup angin malam. Begitu berani dalam kegelapan. Bendera kuning yang terbuat dari kertas sederhana. Membuatku tersadar bahwa kita pun akan kembali pada kesederhanaan. Sama seperti saat kita terlahir di dunia. Saat kita terlahir tanpa membawa dan menggunakan apa-apa nyatanya kita pun mampu menggoreskan suka cita di wajah mereka. Kematian itu hanya merupakan kelahiran dimensi berbeda. Walau pada semestinya apapun itu akan meninggalkan dan ditinggalkan. Tiang itu, akan kembali menggantung bendera kuning, entah kapan.

Mungkin sehabis ini, atau sampai rambu yang Dia tetapkan. Dengan mewakili yang tak sama lagi. Dengan klimaks yang berbeda.

Dengan namaku, di sisi-Nya.. 

– Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum –

Advertisements