Anak kecil itu terus menatap ke sebuah gelas kaca. Gelas yang ia ambil dari lemari dapur rumahnya. Ia membuka keran dan menaruh gelas itu di bawahnya. Air yang keluar dari keran itu begitu deras. Ia tak segan-segan membuka putaran keran lebih lebar. Sehingga kucuran air semakin deras. Setengah gelas sudah terisi. Namun, ia tetap membiarkan air mengisi gelas yang tadinya kosong. Semakin lama, air itu bertumpahan keluar dari gelas. Rupanya ia tak segera menutup kerannya. Ia malah meletakkan kedua telapak tangannya ke sisi gelas. Ia mencoba menahan agar gelas itu tak retak atau sampai pecah karena keras dan derasnya air keran yang mengucur. Air semakin meluber, bahkan hingga keluar dari tempat ia mengisi gelas tersebut. Dasar memang anak kecil, mungkin dalam benaknya ini adalah permainan air yang mengasyikkan seperti bermain hujan dari langit.

“Kenapa harus kalah dengan kucuran keran yang berasal dari satu arah? Sedangkan rintik hujan yang beramai-ramai mengucur saja, mampu ku taklukkan dengan menari ringan di bawahnya…” pikirnya.

Sayangnya, ia larut dalam lamunan terka menerkanya. Ia tak sadar kini air itu membanjiri ruangnya. Hingga menenggelamkan dirinya sendiri.

Jakarta, 19 Desember 2012

– Anggita APP

Advertisements