#1 Aku. Rintik hujan. Kemalut. Hanya ia. Hanya ia yang bisa kucumbu. Tanpa batas. Bebas dan liar. Secangkir Kopi.

#2 Aku menyeduhnya dengan penuh rasa yang tak bisa ku kenali. Dengan tubuh yang kaku ini. Dengan hati yang dingin. Semua kebekuan berubah menjadi kehangatan. Yang selama ini kucari.

#3 Pernah merasa terlalu sulit untuk bercerita? Untuk mengungkap sesuatu yang tak begitu patut dijadikan misteri namun cukup membuat kau gila? Hingga memilih termenung & bermain genangan air, jauh lebih menenangkan? Karena rasa tak selalu harus diungkapkan.

#4 Atau kau pernah menutup telingamu dengan erat? Namun gertakan yang mengekakkan selalu membayangimu. Meski jauh telah lalu di belakang. Sampai tuli pun kau harap. Seringkali mendengar tanpa didengar.

#5 Atau juga kau berharap matamu, agar dapat terpejam. Lebih lama dari biasanya. Jauh lebih lama. Waktu di dunia bukan lagi acuannya.
Karena masa lalu kadang kian muncul sesukanya, tanpa mau mengerti arti penolakan dan sakit yang membekas.

#6 Semua yang pernah menemani jantung ini berdetak, nadi kehidupan, terlihat atau tidak, semua pernah berperan dan menjadi saksi biksu perjalananku. Untuk itu, hanya membisu yang kujadikan pilihan.

#7 Andai saja ruh ini dapat terlepas melayang seperti asa, berjarak yang tak kan mampu tergapai. Aku lebih ingin menjadi ruh. Tanpa harus bersembunyi dalam raga.

#8 Bagiku, tiada rasa dan cerita yang terlalu berlebihan, yang begitu melankolis, jika itu berkaitan dengan hati yang dicipta-Nya.

#9 Hanya doa suci yang dapat kuberikan dengan setiap harap yang ada pada mentari pagi. Serta hirupan embun shubuh yang memulai setiap kehidupanku.

#10 Serta kesunyian malam yang berhasil membuatku berani hidup dalam kelam. Berani berjalan, meski tak terlihat cahaya. Terus berdiri, meski tiada yang memapah. Dalam gelap, aku merindukan sinar. Dalam rindu, kegelapan begitu menyinari. Sebatang kara, ku percaya itu bukan sengsara.

# Bahwa sebuah tanda, tidak hanya mewakili suatu pertanda.
Bahwa sebuah ungkapan, barangkali tidak akan pernah benar-benar terungkap.

Kala ku kecil, aku berharap dapat hidup lebih panjang hingga ku dewasa. Aku ingin mengerti untuk menjadi manusia dewasa.
Namun kini, saat dewasa ku tiba.
Aku mengerti,
Bahwa durasi hidup tak sepenting rasa ingin berpulang.

Sent: Jan 11, 2013 9:08p

– AAPP –

Advertisements