Malam ini seperti biasa, aku ditemani rintik hujan. Hujan selalu punya kekuatan membangkitkanku untuk bercerita. Meski bercerita pada layar bisu. Hujan yang beberapa hari lalu tidak bersahabat dengan kota ini. Kini, ia sudah berkenan menyerahkan kelingkingnya untuk ku kaitkan. Tanda persahabatan itu terjalin kembali. Bukankah kita harus bersahabat dengan alam? 

Esok aku harus kembali mengemban amanah-amanahku. Ya, esok pagi. Mungkin aku tak kan tidur karena takut terlelap dalam tidur sampai enggan untuk bangun dan membuyarkan mimpiku. Kalian pernah merasa begitu penat saat membuka mata, karena pikiran dan hati yang tidak dapat seimbang dengan baik? Dan memilih untuk berbaring, meregangkan otot-otot yang kaku (walau tidak sekaku berbicara dengan robot), kemudian dengan mata terpejam kau membuai melayang ke nuansa yang kau impikan damai bersamanya. Engkau terbang tanpa sayap. Engkau percaya Tuhan membawa roh-mu keluar sementara, ke ruang yang tak dapat kau jangkau dengan isi kepalamu. Kau dipelihatkan skenario dalam mimpi, yang tak bisa kau pinta, bahkan kau atur alurnya. Meski itu cuma mimpi. Bagaimana dengan kehidupan nyata? Yang seharusnya dapat ku sadar, bahwa semua skenario-Nya. Seharusnya aku lebih bisa percaya, bangkit, semangat, dan berharap pada keputusan Tuhan yang selalu membuahkan kebaikan. Meski harus dilewati dengan aral melintang, yang kadangkala kau terpa dengan hujatan dan penyesalan. Hingga, kau benar-benar menyesal bahwa kau telah menyia-nyiakan prosesmu dengan keluh kesah. Kau lupa bahwa keajaiban selalu mungkin bagi Tuhan. Kau lupa bahwa Tuhan mudah membolak-balikkan segala sesuatu yang manusia paksakan. Tuhan membawaku tidak hanya sampai pada mimpiku. Ia menyentikkan-ku hingga aku terbangun membuka mata-ku. Menatap dunia lebih nyata dan realistis. Dan tetap menggenggam mimpiku. Dalam genggaman ini terdapat garis-garis tangan yang tak mampu ku tutup dalam genggamanku sendiri. Itulah bagian Tuhan. Aku yakin Tuhan tetap memiliki rasa cinta kasih lebih padaku. Meski kadang aku bersembunyi dari-Nya, karena mengambek. Karena ia mengambil sesuatu dariku. Karena ia tak memberikan sesuatu yang kuidamkan. Kemudian, seiring berjalan waktu aku sadar bahwa Ia menggantikan kehilanganku dengan sesuatu yang lebih baik dan berharga. Dengan apa yang ku butuhkan tepat pada waktu yang Ia tentukan. Dan semua itu menjadi indah karena-Nya. Mungkin pula pintaku itu ada yang akan menjauhkanku dari-Nya, sehingga Ia memilih tidak mengabulkannya. Lalu, aku berdoa pada segala hal kebaikan yang dapat mendekatkanku pada-Nya, menjadi kekasih-Nya yang lebih mengasihi dan terkasih, hingga tanpa aku meminta, karena aku tak tahu lagi bagaimana caranya meminta, bagaimana caranya merangkai kata pada saat berdoa, bagaimana aku mengurutkan permintaan, bagaimana aku meminta maaf dan dimaafkan dalam tobatku, Ia berikan yang terbaik, segalanya, untukku.

image

Proses perjalananku hingga aku berdiri di tumpuan ini, bukanlah hal yang mudah. Begitu banyak rintangan yang telah ku lalui, bahkan di kala usia dini yang belum mampu menopang beban, aku pun telah merasakan kompleksitasnya. Jiwa, Pikiran, Tenaga, Mental, dan Waktu selalu berkaitan terhadap proses kedewasaan ini. 

Aku pernah tak kuat. Aku pernah tergoncang. Aku pernah terjatuh. Aku pernah menyerah. Aku pernah ‘memaksa’ untuk ‘pulang’.

Tapi, Tuhan tidak ingin aku cepat sampai kembali ke pelukan-Nya. Padahal aku rindu sebuah dekapan. Dekapan yang benar-benar hangat. Dekapan yang bisa menenangkanku dari gigilnya air hujan.

Saat ini, bahkan hingga saat ini, Kau tahu kan tidak ada yang memelukku?

Tuhan, aku sadar kau memberiku sepasang mata di depan untuk melihat lurus jalanku ke depan. Dan mengabaikan jua mengikhlaskan apa yang telah terjadi di masa lalu-ku. Meski kadang semua yang tergores pada masa lalu, bisa membuatku gila. Entah itu permasalahan karena mereka, keluarga, diri sendiri, dan bahkan karena sesuatu yang bukan apa-apa. Itu semua dapat membuatku manarik garis berbentuk persegi tanpa celah. Dan aku sendiri di dalamnya. 

Tuhan, aku pun sadar, bahwa kedua telingaku adalah untuk lebih belajar mendengar ketimbang menuntut dari mulutku yang hanya kau izinkan berjumlah satu. Aku pernah merasa tak ada satu pun yang mau mendengar. Bahkan, saat aku berbicara, mereka mendengar, tanpa mau mengerti. Aku tahu rasanya selalu dituntut, tanpa didengar. Dan aku tidak ingin menjadi penuntut itu. Rasanya aku tak pantas menuntut apa-apa.

Tuhan, aku sangat berterima-kasih dan bersyukur, bahwa nikmat-Mu tak kan pernah dapat didustai. Dapat bernapas dengan lancar dan tanpa kusadari atau kukerjakan saja, itu sudah lebih dari cukup sebenarnya. Hanya aku yang salah, aku yang kadang menyia-nyiakan nafas ini. Aku ingin selalu memuja-Mu dalam setiap hembusan. Karena Engkau, aku hidup. Karena Engkau, aku akan mati.

Tuhan, aku memiliki dua tangan yang mungil. Mungkin mereka tak habis pikir apa saja yang telah kubawa melalui tangan ini. Melalu bahu ini. Aku hanya ingin dapat menggandeng dan mengulurkan kebaikan yang lebih banyak di setiap langkahku.

Tuhan, kedua kaki-ku, yang menghantarkan tubuh ini. Tapi, aku merasa ada dua kaki (bayanganku) yang selalu membuntutiku. Meski ia hilang dalam gelap yang tak disinari. Tapi ia tak benar-benar hilang. 

Aku punya 4 Kaki.

***

Tuhan,


Jika waktu-ku tak banyak, aku memohon ampun atas segala kekuranganku, kelalaianku, kesalahanku, kemaksiatanku, penyakit hati, serta dosa-dosa lain yang tak mampu ku beberkan. Izinkanlah dan maafkan dosaku terhadap mereka yang pernah sengaja atau tak sengaja aku sakiti. Jika aku boleh meminta, mungkinkah aku tak menyakiti satu makhluk-pun ke depannya? Dan apalah arti aku dihidupkan, jika berpulang, tak Kau terima aku untuk pulang ke sisi-Mu. 

Jika waktu-ku tak banyak, aku berterima kasih dan bersyukur banyak atas segala kebaikan, kenikmatan, kelebihan, dan kehidupan yang Engkau berikan padaku. Aku ingin selalu dapat mengucap syukur yang lebih banyak. Aku berterima kasih pula untuk setiap makhluk yang Engkau turunkan dan melaluinya, Engkau sampaikan pesan-Mu. Aku mohon jaga, sehatkan, dan lindungi mereka dalam rahmat serta kebaikan-Mu. Izinkan aku agar dapat membalas kebaikan yang telah mereka berikan. Limpahkan kebaikan yang lebih kepada mereka, dari kebaikan yang mereka berikan padaku. Engkau adalah sumber segala kebaikan bagi kami.

Jika waktu-ku tak banyak, izinkanlah dan mampukanlah aku untuk menggapai cita-cita dan impian yang terbaik-ku. Meski aku merasa ada sia-sia dan kemustahilan. Tunjukkanlah, bahwa tangan-Mu lebih berkuasa daripada rasa pesimisku. Jikalau keinginanku mengundang kebaikan yang lebih untuk sesama dan semesta, terlebih untuk-Mu, aku mohon mudahkanlah. Namun, jika permintaanku hanya akan menjauhkanku dari-Mu. Aku mohon, hilangkan rasa ingin yang fana itu. Sadarkan aku lewat cara-Mu dan berikan aku jawaban yang lebih baik.

Jika waktu-ku tak banyak, pantaulah dan ingatkanlah aku agar tak menyia-nyiakan dan melalaikan sesuatu yang tak pantas untuk diremehkan. Jadikan setiap waktuku dapat bermanfaat dalam kebaikan yang benar. Jadikan aku dapat membahagiakan dan membanggakan orang-orang yang menaruh harapan lebih terhadapku. Mereka yang menyayangiku, mencintaiku, dan menjadikanku seseorang yang berarti dalam hidupnya. Orang tua-ku, keluarga-ku, sahabat-ku, teman-ku, pengajar-ku, seseorang, dan mereka yang mengiringi cerita hidupku meski sejenak ataupun hingga berdurasi lama. Siapapun yang telah lalu, saat ini, dan di ke depannya, yang telah masuk dan ikut mengisi lembaran cerita kehidupanku. Lembaran yang tadinya hanya polos kosong. Kini begitu banyak kisah, jika aku telaah per halaman. Tugasku, bukan untuk meratapi halaman yang dibelakang. Namun, mengisi halaman sekarang dan berikutnya agar lebih indah dan bermanfaat bagi siapapun yang kelak akan membacanya. Hingga, aku kumpulkan buku itu, untuk Engkau nilai. Di hari pembalasan.

Jika waktu-ku tak banyak, perkenankanlah semua ucapan, doa, dan harapan yang ku tuliskan secara tulus pada malam ini, agar tidak hanya sekadar kata-kata dan tulisan. Agar tidak hanya sekadar wacana. Aku tak ingin menjadi pendusta untuk diri-ku sendiri. Apalagi untuk Pencipta-ku.

Maafkan aku, Izinkan aku, dan Mampukan aku dengan Cinta Kasih-Mu.

Hanya kepada Engkau, aku mampu mengeluarkan segala yang ku rasa, tanpa harus detail menjelaskan apa yang tak dapat ku jelaskan dengan panca indera-ku.

Hanya dengan duduk bersimpuh, hanya dengan sujud, hanya dengan menangis dalam hina, aku mendekat pada-Mu.

Tuhan, Aku Punya 4 Kaki, 

Kuatkan kaki ini untuk terus melangkah. Arahkan dan bimbing kaki ini melangkah hanya ke jalan kebaikan yang Engkau ridhoi, bukan ke arah yang Engkau murkai. Gerakkan kaki ini dari diam statis yang melemahkan. Selemahnya diri ini, sampaikan langkahku untuk menghadap-Mu.

Jika waktu-ku telah tiba, setidaknya aku bahagia karena telah mengirim Surat Cinta ini pada-Mu.

Dan, aku berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Tuhan Yang Maha Pengasih & Maha Penyayang,

Aku Rindu Tuhan.

Aku Sayang Tuhan.

Aku Cinta Tuhan.

Jangan pernah lepaskan aku, Tuhan…

 

Kekasih-Mu,

Jakarta, 24 Januari 2013

11:48 PM

Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum

 
 
 
Advertisements