Saturday, June 22, 2013
6:40 PM

‘Bip Bip’

Bunyi pesan masuk. Niar segera mengambil ponsel dari saku celananya. Ia tercengang memandang layar ponsel  yang  nampak sudah lupuk. Ponsel yang memiliki banyak kenangan di dalamnya. Masih tidak yakin, ia pun kembali memeriksa nomor si pengirim. Entah rasa apa yang bergejolak di dadanya. Ia tak menyangka bahwa  seorang pria yang sampai detik itu masih mengisi ruang hatinya, kembali mengirimkan sebuah pesan singkat .  Setelah sekitar  sebulan lebih mereka saling membisu. Mungkin saling bertanya-tanya dalam diam. Meski mereka tahu diam adalah tidak menjawab. Tak ada clue. Sibuk menerka perjalanan ke depan.  Apa, mengapa, bagaimana, seandainya, dan hingga tanda ‘koma’ serta ‘titik’ pun berkeliaran bebas dalam awang pikirannya.

“Apa ia hanya basa-basi? Hanya untuk sebuah klise agar berlalu? Ia tak menanyakan kabarku? Berkenan menengok ibuku? Seperti janjinya kala itu. Ah bodohnya aku masih memikirkan seseorang yang bahkan tak lagi menganggapku ada” gumamnya dalam hati.

Niar kembali melihat percakapan bbm-nya dengan ibu pria tersebut.  Pupil matanya mulai membasah.

“Baru kali ini ada wanita lain, yang ku rasakan seperti sosok ibuku. ..”

“Ada puas dalam bathin saat membahagiakannya.  Ada rasa yang berusaha mengikhlaskan meski yang didoakan tak tahu mengapa.  Aku yakin Tuhan tak pernah mengabaikan. Walau sebulir air mata. Tidak seperti dia. “
Ia bercakap dengan hatinya.

Malam itu, di sebuah taman kota, ia tersenyum.

Taman tempat ia dan pria itu berkenalan. Berjabat tangan. Menyatakan rasa yang ada dan kini entah masih ada atau kembali menjadi tiada.  Tidak. Tidak hanya karena menelusur memori itu. Namun, juga karena Tuhan menjawab doanya dengan pesan elektrik. Lagi-lagi Niar bukanlah penerka ulung. Ia saja tak mampu menjabar perasaannya. Ia hanya bersedekap pada kedua kakinya, saat ia tak tahu lagi kemana harus melangkah. Tidak seperti mereka yang sudah bisa menerka bahwa Niar saat itu pasti sedang dikalahkan oleh rasa.

Seorang gadis yang misterius dalam diamnya. Insting yang peka. Penyayang yang kadang bingung bagaimana untuk menyayangi. Memilih bungkam daripada menggertak. Melukis aksara begitu menenangkan. Harmoni jiwa dalam dawai.

AAPP 

7/1/13 
8:30 PM

Advertisements